Seorang Anak Yang Jatuh Cinta Pada Sepotong Roti

Langit berganti kulit menjadi biru cerah. Namun udara pagi tetap tidak bisa menyembunyikan keriputnya. Dan harapan yang selalu dibawa bersamanya, kini serasa hanyut oleh aliran got di pinggir kota. Tiang lampu jalan berdiri kokoh, menutupi ketidaksanggupannya untuk menaburi bumi dengan cahaya. Hanya suara kicau burung yang masih terdengar hidup. Atau mungkin saja masih tersisa sedikit napas kehidupan di gedung toko tak bernyawa ini yang sering dihampiri oleh sapuan debu. Dengan lantai-lantai kering dan dingin, ditinggalkan oleh hasratnya untuk mencicipi kembali  kesegaran sentuhan kain pel. Di emper toko mati ini, mungkin saja masih terbentang sulur-sulur kehidupan. Karena di sanalah kini aku terbaring meringkuk. Dalam kekakuan. Lemah bersama lalat-lalat kotor.

Pagi ini semakin tegas menyiratkan api lilinku yang mulai meredup. Yang kunyalakan sebagai napas yang kuhembus. Yang kutarik dengan tali dari keringat. Namun tak dapat kusimpan dengan erat di dalam saku celanaku karena pada akhirnya, dengan pasrah harus aku hembuskan lagi. Kulihat sang mentari hadir memerintahkan seisi dunia.  Merekahlah bunga-bunga di taman, merekahlah jiwa-jiwa muda yang baru bangun, merekahlah napas yang berpencar, namun yang menggema di sisi telingaku adalah beratnya suara detik sang waktu. Seakan aku ini mangsanya, dan dia adalah singa betina, mengawasiku dari kejauhan.
Apa yang kugenggam kali ini sama dengan perasaanku. Hampa. Tangan-tangan kecilku yang kurus, tak berdaya, tersisa hanya tinggal kulit dan tulang belulang. Seluruh tubuhku hanya tinggal kulit dan tulang belulang. Darah mungkin sudah hijrah entah kemana. Jantungku pun rasanya tengah berusaha menyeruak keluar. Hanya syaraf perasa yang tampaknya belum mengubur dirinya hidup-hidup karena deretan gigiku bergetar kedinginan, menghasilkan ritme terakhir yang masih dapat kudengar. Dalam keadaan seperti ini, kelaparan seperti ini, semakin meyakinkanku bahwa hidup tidak akan melangkah jauh lagi. Aku teronggok seperti bangkai tikus. Aku ini makanan anjing.
Hari bergerak melambat, sama seperti halnya waktu. Aku tak mengenali hari ini. Mungkin sekarang hari minggu, mungkin hari Lebaran, atau mungkin sekarang adalah hari ulang tahunku yang ke-8 atau bisa jadi yang ke-9. Namun bagiku, ini adalah hari penderitaanku yang lain. Tidak beda dengan yang sudah-sudah, hanya saja sekarang aku berdiri di puncaknya. Dengan satu kaki. Orang payah sepertiku tentunya hanya bisa menunggu. Orang miskin tidak berguna dengan gaya hidup menggelandang tanpa akhir, mengantri di barisan terbelakang di loket kenikmatan dunia. Aku dilahirkan sebagai ahli waris dari segala ketidakpunyaan untuk selamanya! Akulah ahlinya dalam menahan lapar. Jagoan kelaparan nomor satu. Hanya maut yang berani menantangku.
Perutku berteriak untuk yang keseribu kalinya. Bergerak naik turun. Usus besar dan lambung seolah-olah sedang menguping dari dalam, menanti jawabanku atas makanan yang mereka pesan. Aku tidak memiliki pulpen dan kertas untuk menuliskan pesanan kalian. Bukankah selama ini, batupun kalian makan? Tanahpun kalian kunyah? Dan rumput-rumput kalian kulum sampai hancur? Mereka terus memberontak dari dalam, mengeluhkan ”lalat di mangkuk supnya”, mencaci-maki  pelayananku yang buruk dan ini dan itu. Aku semakin kuat menekan perutku. Mengapa kalian tidak bersikap seperti lambung dan usus besar sapi yang nyaman hanya dengan rerumputan dan tanah?
Aku bergerak dengan hati-hati. Permukaan lantai yang keras bersentuhan dengan tulang-tulangku. Aku mencoba bangkit dari tidur untuk melihat apa yang bisa kulihat pagi ini. Dalam hati, kuharap angin segera datang dan menerbangkan badanku ke laut. Dan anak-anak hiu akan berdesakan datang menyambutku. Sungguh, perasaan bosan ini tidak dapat tertahan lagi. Kehidupan ini sudah tidak dapat menjanjikan apapun lagi padaku. Waktu sudah seharusnya berhenti. Uang bukan lagi permintaanku. Aku mengemis pada roda waktu untuk menggilasku dalam tidur. Sehingga aku tidak merasakan apa-apa, dan terbangun bersama cacing dan semut merah. Aku tak keberatan berada di dalam tanah, asalkan di sana ada banyak makanan yang mengenyangkan. Namun, kini aku terbangun di suatu pagi, masih di alam tak berperasaan yang sama, dengan misteri hidup yang tak bisa kumengerti, dan enggan melepaskan kepergianku. Mungkinkah Tuhan tuli tidak dapat mendengarkan do’a-ku? Atau do’a-do’a itu hanya melayang lalu hilang tanpa sempat sampai di tujuannya.
Napasku memburu. Kurasakan paras manusia telah luntur dari wajahku. Sinar matahari dengan pelan menyentuh keningku, rasa hangatnya sedikit merembes lewat pori-pori kulit. Sinar matahari ini tidak seperti biasanya. Menurutku sebentar lagi akan segera hilang, ditutupi oleh awan gelap. Pagi yang cerah ini akan segera diguyur oleh hujan gerimis. Aku tak tahu mengapa, tapi sepertinya aku tahu bahwa hari ini akan turun hujan, walaupun matahari baru saja muncul. Aroma kumuh menyengat di hidung. Dari mataku yang setengah terbuka, aku melihat tempat ini sama menderitanya dengan aku.
Kain rombeng yang kupakai adalah pertahanan terakhirku terhadap udara dingin. Aku duduk bersandar pada tembok, mencoba menghilangkan hawa semalam yang masih mengitariku. Aku lapar ya Tuhan. Aku ingin makan. Tak sanggup lagi aku memandang keringnya tubuh ini. Kulayangkan sorot redup mataku pada langit di mana matahari melayang di sana dengan gagah. Andaikan aku bisa melahap matahari pasti rasanya hangat seperti tahu goreng atau jagung bakar yang telah lama sekali dirindukan lidahku.
Lalat-lalat berputar di atas kepala seperti burung pemakai bangkai. Aku melihat-lihat ke sekeliling. Di depanku, sebuah jalan raya yang mulai ramai dipenuhi oleh mobil-mobil. Mereka lewat dengan aneka warna dan bentuk. Sekali-kali terlihat pula motor-motor yang melesat bagai peluru. Kilatan suara mesin beriringan membentuk melodi jalanan yang tak putus-putus. Asap knalpot mencoret-coret biru langitku. Sekelebat aku melihat sesuatu di seberang sana. Samar-samar tersembunyi di balik wujud kendaraan yang lalu-lalang. Sebuah  benda di depan sana yang mengundang mataku dan liurku untuk mencairkan diri.
Sampai sekarang, kedua mataku adalah sesuatu yang aku percayai dengan sangat. Mereka tak pernah menipuku barang sekalipun. Dari baliknya segala hal yang kulihat tentang kehidupan, yang ternyata dipenuhi oleh ilusi dan dunia fantasi, membuat imanku tegap dari topan godaan. Dan sekarang yang terpantul dari kedua mataku adalah bayangan sepotong roti di atas piring putih yang bercahaya di seberang jalan sana. Jantungku berdegup kencang, seakan bangkit dari kuburnya. Tak kubayangkan pesta meriah yang terjadi di dalam perutku saat ini. Dari sini, hidungku dapat mencium aroma roti itu dengan tegas. Otakku berputar seperti roda keberuntungan, dan berhenti dengan tepat di kata ”Pergi dan Ambil!”. Aku langsung berdiri, memenuhi panggilan perutku yang kosong.

***

Oh roti di ujung sana. Betapa aku mencintaimu. Sungguh-sungguh ingin mencumbumu. Segenap isi perutku adalah milikmu seutuhnya. Aku meniti keseimbangan di atas kedua kaki mungilku. Mencoba berjalan dengan tenaga yang masih tersisa. Darahku mulai mengalir lagi dari hulu ke hilir. Langkah pertamaku terasa begitu canggung, seperti ini adalah langkah pertama manusia di atas permukaan bulan. Bola mataku tidak mau beralih dari roti itu, begitupun dengan arah yang hendak kutempuh.
Dengan tertatih-tatih, dan gairah yang menggedor pintu hawa nafsuku, aku melangkah dari emper toko menuju tepi jalan. Menapaki kerikil dan tanah legam tempat para semut dan bangsa serangga membaur dalam damai. Jalanku sedikit berkelok-kelok, kepalaku agak pusing, namun itu tak cukup untuk membuatku berhenti. Roti itu memanggil-manggil di antara desingan deru mesin. Telingaku bergetar menangkap sinyal yang dikirmkan olehnya padaku, hanya untuk diriku seorang.
Tepi jalan tidak terlalu sulit untuk digapai. Aku tak menyangka tenagaku masih dapat menutup kelemasan dalam tubuhku dan menggiringku berjalan sampai sejauh ini. Mungkin karena semangat telah menyebar di dalam. Tinggal beberapa langkah lagi maka aku dapat segera menyantap hidangan roti itu dengan nikmat. Berarti aku harus menunggu mobil-mobil dan motor-motor ini menyingkir dari hadapanku. Lalu lintas tampak sibuk dilewati orang-orang yang rapih berdasi, anak-anak dengan pakaian seragamnya, surat kabar yang masih hangat, dan sekelumit aktivitas manusia lainnya. Dengan sabar aku mengamati mereka semua lewat di depanku dengan mimik yang angkuh. Salah satu dari mereka mungkin adalah orang yang berhutang banyak padaku. Yang telah membuat hidupku melarat seperti ini. Tapi aku tak peduli, setidaknya untuk saat ini. Ada hal penting yang lebih aku prioritaskan. Aku tak peduli karena merekapun tak pernah peduli.
Penantian ini menjadi terlalu lama bagiku. Rasa lapar sudah mendekam dengan betahnya di dalam perut, dan sepertinya sulit bagi rasa toleransi untuk kukembang-biakkan. Aku tak bisa menunggu lagi. Walaupun beberapa detik saja. Lagipula kupikir mobil-mobil ini pasti akan berhenti bila di depannya ada seorang anak melintas. Dan menunggu jalan sepi di pagi hari sama saja dengan bunuh diri pelan-pelan. Maka, kuputuskan untuk mulai melangkahkan kaki lagi. Semua akan kulakukan demi rotiku tersayang. Kita sudah ditakdirkan untuk bertemu.
Keringat meluncur dari ubun-ubun. Permukaan aspal sehalus kulit bayi dan menjalari telapak kakiku yang sedikit terkelupas. Betapa beraninya aku menyeberangi jalan yang ramai ini. Suara klakson dan decit rem menyambut tiap langkah yang kuambil. Aku tak peduli. Tahu apa mereka tentang perutku? Penderitaanku? Kisah hidupku? Selama ini mereka hanya melihat orang-orang sepertiku lewat televisi, lewat berita di koran, lewat kaca jendela mobil ber-AC mereka, lewat syair lagu Iwan Fals, dan statistik pemerintah. Apa yang mereka tahu tentang kehidupan jalanan adalah nol besar. Dan sekarang tutup mulut kalian! Biarkan aku menyeberang dengan tenang.
Mataku memberi sinyal sekitar lima langkah lagi yang harus kutempuh menuju surga dunia. Roti mungil yang bercahaya oleh lampu sorot dari langit seperti sosok selebritis termasyhur dengan kepungan lampu blitz kamera. Bagiku, dia melebihi ketenaran siapapun di dunia. Dia lebih berkilau dari intan permata. Aku melangkah tahap demi tahap dengan badan oleng. Air liurku menetes. Sinar matahari pelan-pelan menipis. Kini, jantungku tak terkendali. Aku berdiri di hadapannya. Kucoba menjulurkan tanganku yang menderita gugup. Aku ingin menyentuh kerut-kerut roti itu, merasakan keempukannya dalam genggamanku. Memeluknya dengan penuh perasaan dan memperkenalkannya pada lidahku. Kucoba menyentuh dambaan hatiku itu dengan jari-jari tipisku. Kemarilah, sayang.

***

Aku merasakan perasaan yang sangat aneh, sangat baru, menghinggapi ragaku. Berputar-putar di dalam hati, naik menuju otak, dan bergerak cepat bersama darah ke setiap jengkal jaringan yang ada di dalam badan. Dunia ini muncul dalam aneka warna yang lahir dari campur aduk perasaanku. Suatu keindahan yang telah lama luput dari kedua mata. Roti di depanku mewujud dalam ratusan dimensi dan memanjakan indera penglihatanku, seperti sebuah manipulasi tanpa henti yang memabukkan. Aku terbius. Mabuk oleh pemandangan indah di dalam batin. Tubuh yang ringan ini seperti terangkat ke taman firdaus.
Apakah ini buah kerinduanku terhadap makanan? Buah hasratku terhadap roti cantik ini? Aku tidak tahu. Yang jelas semburat hawa dingin merambati diriku dan aku bisa merasakan matahari menyunggingkan senyum padaku. Kebahagiaan hidup mengeras. Beban-beban berat telah rubuh dari pundak dan hangus menjadi abu. Dengan heran, kuperhatikan roti bercahaya itu perlahan memudar, mencairkan diri, dan berubah wujud menjadi sebongkah batu kehitaman. Fatamorgana ini merayapi pikiranku dan terpantul dari ekspresi wajah yang diwarnai kebingungan.
Aku diam mematung dengan sempurna. Tak percaya atas kedua mata yang selama ini menjadi temanku, kini mengkhianati dan menipuku sampai sejauh ini. Telah kuperjuangkan nyawaku dengan berjalan sekuat tenaga hanya demi batu tak berguna ini yang juga mematung tanpa berdosa di depanku. Aku dibodohi oleh diriku sendiri. Kalau begini siapa lagi yang akan aku percayai? Dunia telah menunjukkan wajah aslinya padaku, dan itu sangat menyakitkan. Air liur di bibir menguap dan terbang menuju matahari. Pesta lambung dan usus besar telah dibatalkan. Perjuangan telah usai, dan agaknya hidupku telah benar-benar dijauhi oleh harapan.
Sambil membalikkan badan, aku ditemani oleh gerutu yang membisu. Kemarahan sepertinya hanya akan membuang energiku lebih banyak lagi. Aku lebih memilih diam seribu bahasa dan menghadapinya dengan pasrah. Mobil dan motor menghentikan lajunya seakan memberi ruang bagiku untuk menyeberang jalan. Orang-orang berkerumun di sebelahku, memperbanyak diri dalam hitungan detik. Keributan tumpah dari mulut-mulut segar mereka. Seorang ibu berkata dalam nada mengiba,“Oh Tuhan, ampunilah dia.“ Suara lain muncul meminjam nada yang sama,“…Anak yang malang.“ Dan terus menerus suara-suara manusia itu bermunculan seperti desing kawanan lebah menyatu dalam lagu yang menyedihkan.
Aku mendekat dihantui rasa penasaran. Melewati badan-badan tegap mereka dan membaur seperti gula dalam air. Dengan mudahnya aku menembus partikel-partikel padat manusia dan sampailah aku di tengah kerumunan. Seorang anak kecil tergeletak bersimbah darah dari kepala menyebar menuju pakaian kumalnya. Perutnya tidak lagi bergerak naik turun, hidungnya tidak lagi memburu udara untuk bernapas. Anak itu kosong, kehilangan jiwanya dan tersisa menjadi daging makanan cacing. Ubun-ubunnya retak, menyemburkan darah lebih banyak lagi. Anak yang malang, mati dengan mengenaskan. Tontonan bagi sifat jalang dunia.
Namun, aku tidak bisa lagi menutup rapat rasa sedihku. Rembesannya menetes dengan deras. Bagaimanapun, anak kecil itu adalah aku sendiri. Begitu sakitnya aku mengakui kejujuran ini. Tanganku berubah menjadi halus, putih bersinar, otot-ototnya, sel-selnya, dan pori-porinya terlihat eksotis dan menakjubkan. Badanku seperti melayang di atas tanah karena terasa ringan sekali. Perasaan aneh ini menemukan jawabannya sendiri. Sebuah mobil telah menghempaskan badanku, menghancurkan kepalaku, dan mengirimku ke alam roh.
Seseorang merengkuh pundak kananku. Cahaya dengan intensitasnya yang tinggi menutupi paras wajahnya. Orang ini dengan mengenakan pakaian serba putih, mentransfer rasa hangat melalui tangannya. Ia begitu putih, begitu rapih, dan begitu suci. Aroma segar terpancar dari mukanya saat ia berkata, ”Maaf, aku datang terlambat.” Tanpa kusadari, dia mengangkatku ke angkasa. Menjauhi kerumunan orang di sana. Menjauhi badan manusiaku yang pasrah. Menjauhi dunia yang telah menjauhiku lebih dulu. Menjauhi kisah hidupku yang penuh derita. Aku terbang bebas. Menuju tempat yang tak bisa kujelaskan.
Di langit, sebelum melewati atmosfer bumi, aku menyimpulkan akhir hidupku. Cintaku pada roti itu berada dalam keabadian. Roti itu sengaja menampakkan dirinya agar aku bisa segera hidup bersamanya selamanya. Rasa lapar mendorong kepergianku lebih cepat. Inilah jawaban dari setumpuk do’aku yang selama ini kutunggu dengan penuh kesabaran dan ketidakpastian. Hari esok kini telah berakhir dan tak lagi berarti. Roti bercahaya telah menjemput keresahanku. Orang dengan pakaian putih yang membawaku terbang sekarang ini mungkin adalah utusan dari roti itu yang khusus untuk mengantarku ke nirwana.
Pagi berganti kulit menjadi kelabu. Gema nyanyian burung tenggelam dalam dinding kemuraman. Kuasa sang mentari tak berdaya digoyahkan oleh gemuruh awan hitam yang bergumul. Kilat dan petir mengantri di ruang tunggu, menanti saat untuk terjun bersama tetes-tetes air. Semut-semut berlari dan menyembunyikan kepalanya. Detik-detik berlalu, awan berubah mendung, dan langitpun mengencingi dunia yang fana dengan tenangnya.

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: