SEKILAS INFO BBF

Ditulis Februari 20, 2010 oleh glorymarbun
Kategori: Uncategorized

Label Rating : Remaja (R), Bimbingan Orang Tua (BO)
Tayang Perdana : Senin, 1 Juni 2009 pkl. 21.48 – 23.07 WIB di Indosiar
Mega Drama Asia Boys Before Flowers Mulai Menemui Penonton Perdana 1 Juni 2009 pkl. 21.30 WIb di IndosiarMega Drama Asia Boys Before Flowers Mulai Menemui Penonton Perdana 1 Juni 2009 pkl. 21.30 WIB di Indosiar

Boys Before Flowers : Bilamana Demam Meteor Garden versi Korea Melanda Indonesia? Para penggemar drama Asia di Indonesia dapat dipastikan telah mengenal serial drama populer asal Taiwan, apalagi kalau bukan “Meteor Garden”. Masih segar ingatan kita bahwa serial drama tersebut yang menyuguhkan kisah cinta seorang gadis miskin bernama San Chai (Barbie Hsu) dengan Dao Ming She (Jerry Yan). Lika-liku kisah San Chai dengan Dao Ming She yang harus melalui jalan terjal ternyata mampu membuat fenomena menggemparkan di Indonesia karena tidak terduga mampu membuat euforia drama Asia di kalangan pemirsa televisi Indonesia. Serial drama Meteor Garden yang ditayangkan di Indosiar pada tahun 2002 itu datang pada saat tepat karena saat itu para pemirsa televisi Indonesia sudah mulai jenuh disuguhi tayangan drama luar negeri dari belahan dunia Barat seperti halnya telenovela. Ditambah pula saat itu di SCTV sedang gencar-gencarnya trailer sinetron Siapa Takut Jatuh Cinta? (diperankan Leony, Indra L. Bruggmann, Roger Danuarta, Ijonk, Steve Emmanuel produksi Prima Entertainment yang kala itu milik Pak Leo Sutanto, sekarang bos SinemArt) yang mana Indosiar telah mencuri start duluan menayangkan MG dan kebetulan pemirsa yang menyaksikan Indosiar pada Senin pkl. 22.00 merasa ada kemiripan cerita dan karakter diantara keduanya. Timbullah rasa penasaran dan saling ngobrol sana-sini sehingga jumlah penonton Serial Meteor Garden bertambah, rating tinggi walau tak dipasang di primetime.

Kim Hyun Joong Pemain Mega Drama Boys Before FlowersKim Hyun Joong Pemain Mega Drama Boys Before Flowers Pemeran Ji-hoo

Para pemirsa Indonesia terutama para kaum muda yang sebenarnya sudah lama menikmati produk-produk sinema Asia di Indosiar seperti serial kungfu atau film aksi laga Hong Kong dan Jepang namun seperti baru menemukan oase dari kedahagaan akan tayangan drama Asia yang menyajikan kisah cinta romantis, persahabatan dan perjuangan meraih cita-cita di kota metropolitan Asia. Selain kisah yang mengena di hati, juga karena dari sisi budaya yang disuguhkan drama Asia tersebut lebih dekat dengan budaya Indonesia jika dibandingkan dengan budaya modernitas dan kemajuan teknologi secara masif melalui produk tayangan dunia Barat sehingga lebih mudah diterima. Selain itu, fenomena baru ini juga memperlihatkan bahwa pemirsa televisi Indonesia lebih mudah merasakan pengalaman atas misalnya bagaimana modernitas dan ide kemajuan itu dirasakan sendiri oleh orang Asia, baik melalui cerita orang Asia yang tinggal di negeri-negeri Barat atau mereka yang tinggal di negara-negara Asia yang lebih maju. Dengan kata lain, Asia yang mengkonsumsi Asia sendiri.

Seperti yang dikatakan oleh Rob Wilson dalam bukunya “Korean cinema on the road to globalization: tracking global/local dynamics, or why I’m Kwon-Taek is not Ang Lee” pada tahun 2001 bahwa Asia adalah juga pengirim pesan kebudayaan (a sending culture), yang dalam kasus ini lebih diperhatikan daripada Amerika Serikat atau negara Barat lain.

Nah, pada saat televisi-televisi lain di Indonesia lebih sibuk berlomba-lomba menyajikan tayangan dari dunia Barat, Indosiar telah membaca arah perubahan selera pemirsa Indonesia terutama di kalangan kaum muda. Tidak heran jika serial Meteor Garden di Indosiar pun meledak dan kemudian disusul dengan serial drama dari Korea Selatan yaitu “Endless Love” yang dibintangi Song Hye Kyo dan Song Seung Hun pada tahun sama.

Tayangan drama Korea yang mengharubiru hati tersebut di Indosiar itu menimbulkan fenomena tersendiri karena mampu membuat para pemirsa Indonesia menjadi gandrung akan segala hal yang berbau Korea, tidak hanya serial drama saja, juga film-film Korea dan para bintang Korea Selatan yang sebelumnya masih asing, mendadak banyak dikenal dan disukai di Indonesia.

Melihat kesuksesan tayangan drama Asia seperti yang disebutkan di atas, Indosiar kemudian menyajikan banyak drama populer tidak hanya dari Taiwan dan Korea namun juga drama dari Jepang, yang populer dengan istilah dorama. Masih ingatkah Anda dengan dorama Jepang “Beautiful Life” yang dibintangi Takuya Kimura dan Takako Tokiwa di Indosiar pada tahun 2004.

Dengan banyaknya tayangan drama Asia oleh Indosiar sejak tahun 2002 itu itulah yang membuat pemirsa Indonesia begitu fasih membicarakan tentang Song Hye Kyo, Bae Young Jun, Kwon Sang Woo, Takuya Kimura, Kyoko Fukada, Barbie Hsu, F4, Rainie Yang, dan banyak lagi. Terlebih lagi popularitas drama Asia pun terdorong mengekornya para stasiun televisi lain untuk mengikuti jejak Indosiar dalam menayangkan serial drama Asia di layar kaca Indonesia.

Euforia drama Asia di Indonesia juga mendorong para penggemarnya ingin lebih jauh mengetahui segala hal tentang drama tersebut dan juga para artisnya. Tidak heran jika sejak popularitas Meteor Garden meledak, muncul banyak majalah atau tabloid hiburan yang memfokuskan pada seluk beluk drama Asia maupun para bintangnya.

Dalam hal ini, Indosiar patut berbangga karena mampu menjadi ‘trendsetter’ genre drama Asia di tidak hanya di layar kaca Indonesia, namun juga mampu membuat pemirsa drama Asia ingin mengetahui lebih jauh tentang drama tersebut beserta artisnya dalam berbagai bentuk media massa termasuk Internet.

Tidak hanya itu, Indosiar juga menfasilitasi kedatangan para artis drama Asia untuk berjumpa dengan para penggemarnya seperti F4 dan Barbie Hsu, Kwon Sang Woo, Rain dan banyak lainnya sehingga fenomena drama Asia tetap bertahan hingga sekarang. Pada akhir tahun 2005, Indosiar kembali membuat terobosan cukup berani karena menayangkan serial drama Asia dari Korea yang bertema sejarah, bukan drama bertema percintaan seperti biasanya. Apalagi kalau bukan serial “Jewel in The Palace”.

Pada awalnya serial drama sejarah berseting pada masa Dinasti Joseon awal abad ke-16 di Korea yang dibintangi Lee Young Ae tersebut diragukan mampu merebut hati pemirsa Indonesia karena temanya lebih “berat”, namun ternyata mampu meledak di pasaran.

Fenomena tersebut menyadarkan kita bahwa penggemar drama Asia tidak hanya suka mengkonsumsi kisah-kisah cinta belaka namun juga bisa menikmati kisah bertema lain seperti perjuangan seorang wanita bernama Jang Geum (Lee Young Ae) dari seorang koki Istana menjadi seorang tabib (dokter) yang pertama di kerajaan dinasti Joseon tersebut.

Kisah tersebut yang membawa pesan moral, sifat tidak putus asa, kebangkitan perempuan, kesederhanaan dan etika itu ternyata bisa disukai pemirsa layar kaca Indosiar, tidak hanya kaum wanita, namun juga hampir semua kalangan tidak peduli pria-wanita, tua-muda, miskin-kaya, ganteng-jelek.

Kim Bum as So Yi Jung f4 Korea

Sangkuriang

Ditulis Februari 20, 2010 oleh glorymarbun
Kategori: Uncategorized

Diceritakan bahwa Raja Sungging Perbangkara pergi berburu. Di tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan). Seekor babi hutan betina bernama Wayungyang yang tengah bertapa ingin menjadi manusia meminum air seni tadi. Wayungyang hamil dan melahirkan seorang bayi cantik. Bayi cantik itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama Dayang Sumbi alias Rarasati. Banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dayang Sumbi pun atas permitaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika sedang asyik bertenun, toropong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki diberi nama Sangkuriang.

Ketika Sangkuriang berburu di dalam hutan disuruhnya si Tumang untuk mengejar babi betina Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, lalu dibunuhnya. Hati si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tubman, kemarahannya pun memuncak serta merta kepala Sangkuriang dipukul dengan senduk yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga luka.

Sangkuriang pergi mengembara mengelilingi dunia. Setelah sekian lama berjalan ke arah timur akhirnya sampailah di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi – ibunya. Terminological kisah kasih di antara kedua insan itu. Tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka di kepalanya. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.

Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung ukit Tanggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan menjadi Gunung Burangrang. Dengan bantuan para guriang, bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi bermohon kepada Sang Hyang Tunggal agar maksud Sangkuriang tidak terwujud. Dayang Sumbi menebarkan irisan boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), ketika itu pula fajar pun merekah di ufuk timur. Sangkuriang menjadi gusar, dipuncak kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang mendadak menghilang di Gunung Putri dan berubah menjadi setangkai bunga jaksi. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung berung akhirnya menghilang ke alam gaib (ngahiyang).

Seorang Anak Yang Jatuh Cinta Pada Sepotong Roti

Ditulis Februari 20, 2010 oleh glorymarbun
Kategori: Uncategorized

Langit berganti kulit menjadi biru cerah. Namun udara pagi tetap tidak bisa menyembunyikan keriputnya. Dan harapan yang selalu dibawa bersamanya, kini serasa hanyut oleh aliran got di pinggir kota. Tiang lampu jalan berdiri kokoh, menutupi ketidaksanggupannya untuk menaburi bumi dengan cahaya. Hanya suara kicau burung yang masih terdengar hidup. Atau mungkin saja masih tersisa sedikit napas kehidupan di gedung toko tak bernyawa ini yang sering dihampiri oleh sapuan debu. Dengan lantai-lantai kering dan dingin, ditinggalkan oleh hasratnya untuk mencicipi kembali  kesegaran sentuhan kain pel. Di emper toko mati ini, mungkin saja masih terbentang sulur-sulur kehidupan. Karena di sanalah kini aku terbaring meringkuk. Dalam kekakuan. Lemah bersama lalat-lalat kotor.

Pagi ini semakin tegas menyiratkan api lilinku yang mulai meredup. Yang kunyalakan sebagai napas yang kuhembus. Yang kutarik dengan tali dari keringat. Namun tak dapat kusimpan dengan erat di dalam saku celanaku karena pada akhirnya, dengan pasrah harus aku hembuskan lagi. Kulihat sang mentari hadir memerintahkan seisi dunia.  Merekahlah bunga-bunga di taman, merekahlah jiwa-jiwa muda yang baru bangun, merekahlah napas yang berpencar, namun yang menggema di sisi telingaku adalah beratnya suara detik sang waktu. Seakan aku ini mangsanya, dan dia adalah singa betina, mengawasiku dari kejauhan.
Apa yang kugenggam kali ini sama dengan perasaanku. Hampa. Tangan-tangan kecilku yang kurus, tak berdaya, tersisa hanya tinggal kulit dan tulang belulang. Seluruh tubuhku hanya tinggal kulit dan tulang belulang. Darah mungkin sudah hijrah entah kemana. Jantungku pun rasanya tengah berusaha menyeruak keluar. Hanya syaraf perasa yang tampaknya belum mengubur dirinya hidup-hidup karena deretan gigiku bergetar kedinginan, menghasilkan ritme terakhir yang masih dapat kudengar. Dalam keadaan seperti ini, kelaparan seperti ini, semakin meyakinkanku bahwa hidup tidak akan melangkah jauh lagi. Aku teronggok seperti bangkai tikus. Aku ini makanan anjing.
Hari bergerak melambat, sama seperti halnya waktu. Aku tak mengenali hari ini. Mungkin sekarang hari minggu, mungkin hari Lebaran, atau mungkin sekarang adalah hari ulang tahunku yang ke-8 atau bisa jadi yang ke-9. Namun bagiku, ini adalah hari penderitaanku yang lain. Tidak beda dengan yang sudah-sudah, hanya saja sekarang aku berdiri di puncaknya. Dengan satu kaki. Orang payah sepertiku tentunya hanya bisa menunggu. Orang miskin tidak berguna dengan gaya hidup menggelandang tanpa akhir, mengantri di barisan terbelakang di loket kenikmatan dunia. Aku dilahirkan sebagai ahli waris dari segala ketidakpunyaan untuk selamanya! Akulah ahlinya dalam menahan lapar. Jagoan kelaparan nomor satu. Hanya maut yang berani menantangku.
Perutku berteriak untuk yang keseribu kalinya. Bergerak naik turun. Usus besar dan lambung seolah-olah sedang menguping dari dalam, menanti jawabanku atas makanan yang mereka pesan. Aku tidak memiliki pulpen dan kertas untuk menuliskan pesanan kalian. Bukankah selama ini, batupun kalian makan? Tanahpun kalian kunyah? Dan rumput-rumput kalian kulum sampai hancur? Mereka terus memberontak dari dalam, mengeluhkan ”lalat di mangkuk supnya”, mencaci-maki  pelayananku yang buruk dan ini dan itu. Aku semakin kuat menekan perutku. Mengapa kalian tidak bersikap seperti lambung dan usus besar sapi yang nyaman hanya dengan rerumputan dan tanah?
Aku bergerak dengan hati-hati. Permukaan lantai yang keras bersentuhan dengan tulang-tulangku. Aku mencoba bangkit dari tidur untuk melihat apa yang bisa kulihat pagi ini. Dalam hati, kuharap angin segera datang dan menerbangkan badanku ke laut. Dan anak-anak hiu akan berdesakan datang menyambutku. Sungguh, perasaan bosan ini tidak dapat tertahan lagi. Kehidupan ini sudah tidak dapat menjanjikan apapun lagi padaku. Waktu sudah seharusnya berhenti. Uang bukan lagi permintaanku. Aku mengemis pada roda waktu untuk menggilasku dalam tidur. Sehingga aku tidak merasakan apa-apa, dan terbangun bersama cacing dan semut merah. Aku tak keberatan berada di dalam tanah, asalkan di sana ada banyak makanan yang mengenyangkan. Namun, kini aku terbangun di suatu pagi, masih di alam tak berperasaan yang sama, dengan misteri hidup yang tak bisa kumengerti, dan enggan melepaskan kepergianku. Mungkinkah Tuhan tuli tidak dapat mendengarkan do’a-ku? Atau do’a-do’a itu hanya melayang lalu hilang tanpa sempat sampai di tujuannya.
Napasku memburu. Kurasakan paras manusia telah luntur dari wajahku. Sinar matahari dengan pelan menyentuh keningku, rasa hangatnya sedikit merembes lewat pori-pori kulit. Sinar matahari ini tidak seperti biasanya. Menurutku sebentar lagi akan segera hilang, ditutupi oleh awan gelap. Pagi yang cerah ini akan segera diguyur oleh hujan gerimis. Aku tak tahu mengapa, tapi sepertinya aku tahu bahwa hari ini akan turun hujan, walaupun matahari baru saja muncul. Aroma kumuh menyengat di hidung. Dari mataku yang setengah terbuka, aku melihat tempat ini sama menderitanya dengan aku.
Kain rombeng yang kupakai adalah pertahanan terakhirku terhadap udara dingin. Aku duduk bersandar pada tembok, mencoba menghilangkan hawa semalam yang masih mengitariku. Aku lapar ya Tuhan. Aku ingin makan. Tak sanggup lagi aku memandang keringnya tubuh ini. Kulayangkan sorot redup mataku pada langit di mana matahari melayang di sana dengan gagah. Andaikan aku bisa melahap matahari pasti rasanya hangat seperti tahu goreng atau jagung bakar yang telah lama sekali dirindukan lidahku.
Lalat-lalat berputar di atas kepala seperti burung pemakai bangkai. Aku melihat-lihat ke sekeliling. Di depanku, sebuah jalan raya yang mulai ramai dipenuhi oleh mobil-mobil. Mereka lewat dengan aneka warna dan bentuk. Sekali-kali terlihat pula motor-motor yang melesat bagai peluru. Kilatan suara mesin beriringan membentuk melodi jalanan yang tak putus-putus. Asap knalpot mencoret-coret biru langitku. Sekelebat aku melihat sesuatu di seberang sana. Samar-samar tersembunyi di balik wujud kendaraan yang lalu-lalang. Sebuah  benda di depan sana yang mengundang mataku dan liurku untuk mencairkan diri.
Sampai sekarang, kedua mataku adalah sesuatu yang aku percayai dengan sangat. Mereka tak pernah menipuku barang sekalipun. Dari baliknya segala hal yang kulihat tentang kehidupan, yang ternyata dipenuhi oleh ilusi dan dunia fantasi, membuat imanku tegap dari topan godaan. Dan sekarang yang terpantul dari kedua mataku adalah bayangan sepotong roti di atas piring putih yang bercahaya di seberang jalan sana. Jantungku berdegup kencang, seakan bangkit dari kuburnya. Tak kubayangkan pesta meriah yang terjadi di dalam perutku saat ini. Dari sini, hidungku dapat mencium aroma roti itu dengan tegas. Otakku berputar seperti roda keberuntungan, dan berhenti dengan tepat di kata ”Pergi dan Ambil!”. Aku langsung berdiri, memenuhi panggilan perutku yang kosong.

***

Oh roti di ujung sana. Betapa aku mencintaimu. Sungguh-sungguh ingin mencumbumu. Segenap isi perutku adalah milikmu seutuhnya. Aku meniti keseimbangan di atas kedua kaki mungilku. Mencoba berjalan dengan tenaga yang masih tersisa. Darahku mulai mengalir lagi dari hulu ke hilir. Langkah pertamaku terasa begitu canggung, seperti ini adalah langkah pertama manusia di atas permukaan bulan. Bola mataku tidak mau beralih dari roti itu, begitupun dengan arah yang hendak kutempuh.
Dengan tertatih-tatih, dan gairah yang menggedor pintu hawa nafsuku, aku melangkah dari emper toko menuju tepi jalan. Menapaki kerikil dan tanah legam tempat para semut dan bangsa serangga membaur dalam damai. Jalanku sedikit berkelok-kelok, kepalaku agak pusing, namun itu tak cukup untuk membuatku berhenti. Roti itu memanggil-manggil di antara desingan deru mesin. Telingaku bergetar menangkap sinyal yang dikirmkan olehnya padaku, hanya untuk diriku seorang.
Tepi jalan tidak terlalu sulit untuk digapai. Aku tak menyangka tenagaku masih dapat menutup kelemasan dalam tubuhku dan menggiringku berjalan sampai sejauh ini. Mungkin karena semangat telah menyebar di dalam. Tinggal beberapa langkah lagi maka aku dapat segera menyantap hidangan roti itu dengan nikmat. Berarti aku harus menunggu mobil-mobil dan motor-motor ini menyingkir dari hadapanku. Lalu lintas tampak sibuk dilewati orang-orang yang rapih berdasi, anak-anak dengan pakaian seragamnya, surat kabar yang masih hangat, dan sekelumit aktivitas manusia lainnya. Dengan sabar aku mengamati mereka semua lewat di depanku dengan mimik yang angkuh. Salah satu dari mereka mungkin adalah orang yang berhutang banyak padaku. Yang telah membuat hidupku melarat seperti ini. Tapi aku tak peduli, setidaknya untuk saat ini. Ada hal penting yang lebih aku prioritaskan. Aku tak peduli karena merekapun tak pernah peduli.
Penantian ini menjadi terlalu lama bagiku. Rasa lapar sudah mendekam dengan betahnya di dalam perut, dan sepertinya sulit bagi rasa toleransi untuk kukembang-biakkan. Aku tak bisa menunggu lagi. Walaupun beberapa detik saja. Lagipula kupikir mobil-mobil ini pasti akan berhenti bila di depannya ada seorang anak melintas. Dan menunggu jalan sepi di pagi hari sama saja dengan bunuh diri pelan-pelan. Maka, kuputuskan untuk mulai melangkahkan kaki lagi. Semua akan kulakukan demi rotiku tersayang. Kita sudah ditakdirkan untuk bertemu.
Keringat meluncur dari ubun-ubun. Permukaan aspal sehalus kulit bayi dan menjalari telapak kakiku yang sedikit terkelupas. Betapa beraninya aku menyeberangi jalan yang ramai ini. Suara klakson dan decit rem menyambut tiap langkah yang kuambil. Aku tak peduli. Tahu apa mereka tentang perutku? Penderitaanku? Kisah hidupku? Selama ini mereka hanya melihat orang-orang sepertiku lewat televisi, lewat berita di koran, lewat kaca jendela mobil ber-AC mereka, lewat syair lagu Iwan Fals, dan statistik pemerintah. Apa yang mereka tahu tentang kehidupan jalanan adalah nol besar. Dan sekarang tutup mulut kalian! Biarkan aku menyeberang dengan tenang.
Mataku memberi sinyal sekitar lima langkah lagi yang harus kutempuh menuju surga dunia. Roti mungil yang bercahaya oleh lampu sorot dari langit seperti sosok selebritis termasyhur dengan kepungan lampu blitz kamera. Bagiku, dia melebihi ketenaran siapapun di dunia. Dia lebih berkilau dari intan permata. Aku melangkah tahap demi tahap dengan badan oleng. Air liurku menetes. Sinar matahari pelan-pelan menipis. Kini, jantungku tak terkendali. Aku berdiri di hadapannya. Kucoba menjulurkan tanganku yang menderita gugup. Aku ingin menyentuh kerut-kerut roti itu, merasakan keempukannya dalam genggamanku. Memeluknya dengan penuh perasaan dan memperkenalkannya pada lidahku. Kucoba menyentuh dambaan hatiku itu dengan jari-jari tipisku. Kemarilah, sayang.

***

Aku merasakan perasaan yang sangat aneh, sangat baru, menghinggapi ragaku. Berputar-putar di dalam hati, naik menuju otak, dan bergerak cepat bersama darah ke setiap jengkal jaringan yang ada di dalam badan. Dunia ini muncul dalam aneka warna yang lahir dari campur aduk perasaanku. Suatu keindahan yang telah lama luput dari kedua mata. Roti di depanku mewujud dalam ratusan dimensi dan memanjakan indera penglihatanku, seperti sebuah manipulasi tanpa henti yang memabukkan. Aku terbius. Mabuk oleh pemandangan indah di dalam batin. Tubuh yang ringan ini seperti terangkat ke taman firdaus.
Apakah ini buah kerinduanku terhadap makanan? Buah hasratku terhadap roti cantik ini? Aku tidak tahu. Yang jelas semburat hawa dingin merambati diriku dan aku bisa merasakan matahari menyunggingkan senyum padaku. Kebahagiaan hidup mengeras. Beban-beban berat telah rubuh dari pundak dan hangus menjadi abu. Dengan heran, kuperhatikan roti bercahaya itu perlahan memudar, mencairkan diri, dan berubah wujud menjadi sebongkah batu kehitaman. Fatamorgana ini merayapi pikiranku dan terpantul dari ekspresi wajah yang diwarnai kebingungan.
Aku diam mematung dengan sempurna. Tak percaya atas kedua mata yang selama ini menjadi temanku, kini mengkhianati dan menipuku sampai sejauh ini. Telah kuperjuangkan nyawaku dengan berjalan sekuat tenaga hanya demi batu tak berguna ini yang juga mematung tanpa berdosa di depanku. Aku dibodohi oleh diriku sendiri. Kalau begini siapa lagi yang akan aku percayai? Dunia telah menunjukkan wajah aslinya padaku, dan itu sangat menyakitkan. Air liur di bibir menguap dan terbang menuju matahari. Pesta lambung dan usus besar telah dibatalkan. Perjuangan telah usai, dan agaknya hidupku telah benar-benar dijauhi oleh harapan.
Sambil membalikkan badan, aku ditemani oleh gerutu yang membisu. Kemarahan sepertinya hanya akan membuang energiku lebih banyak lagi. Aku lebih memilih diam seribu bahasa dan menghadapinya dengan pasrah. Mobil dan motor menghentikan lajunya seakan memberi ruang bagiku untuk menyeberang jalan. Orang-orang berkerumun di sebelahku, memperbanyak diri dalam hitungan detik. Keributan tumpah dari mulut-mulut segar mereka. Seorang ibu berkata dalam nada mengiba,“Oh Tuhan, ampunilah dia.“ Suara lain muncul meminjam nada yang sama,“…Anak yang malang.“ Dan terus menerus suara-suara manusia itu bermunculan seperti desing kawanan lebah menyatu dalam lagu yang menyedihkan.
Aku mendekat dihantui rasa penasaran. Melewati badan-badan tegap mereka dan membaur seperti gula dalam air. Dengan mudahnya aku menembus partikel-partikel padat manusia dan sampailah aku di tengah kerumunan. Seorang anak kecil tergeletak bersimbah darah dari kepala menyebar menuju pakaian kumalnya. Perutnya tidak lagi bergerak naik turun, hidungnya tidak lagi memburu udara untuk bernapas. Anak itu kosong, kehilangan jiwanya dan tersisa menjadi daging makanan cacing. Ubun-ubunnya retak, menyemburkan darah lebih banyak lagi. Anak yang malang, mati dengan mengenaskan. Tontonan bagi sifat jalang dunia.
Namun, aku tidak bisa lagi menutup rapat rasa sedihku. Rembesannya menetes dengan deras. Bagaimanapun, anak kecil itu adalah aku sendiri. Begitu sakitnya aku mengakui kejujuran ini. Tanganku berubah menjadi halus, putih bersinar, otot-ototnya, sel-selnya, dan pori-porinya terlihat eksotis dan menakjubkan. Badanku seperti melayang di atas tanah karena terasa ringan sekali. Perasaan aneh ini menemukan jawabannya sendiri. Sebuah mobil telah menghempaskan badanku, menghancurkan kepalaku, dan mengirimku ke alam roh.
Seseorang merengkuh pundak kananku. Cahaya dengan intensitasnya yang tinggi menutupi paras wajahnya. Orang ini dengan mengenakan pakaian serba putih, mentransfer rasa hangat melalui tangannya. Ia begitu putih, begitu rapih, dan begitu suci. Aroma segar terpancar dari mukanya saat ia berkata, ”Maaf, aku datang terlambat.” Tanpa kusadari, dia mengangkatku ke angkasa. Menjauhi kerumunan orang di sana. Menjauhi badan manusiaku yang pasrah. Menjauhi dunia yang telah menjauhiku lebih dulu. Menjauhi kisah hidupku yang penuh derita. Aku terbang bebas. Menuju tempat yang tak bisa kujelaskan.
Di langit, sebelum melewati atmosfer bumi, aku menyimpulkan akhir hidupku. Cintaku pada roti itu berada dalam keabadian. Roti itu sengaja menampakkan dirinya agar aku bisa segera hidup bersamanya selamanya. Rasa lapar mendorong kepergianku lebih cepat. Inilah jawaban dari setumpuk do’aku yang selama ini kutunggu dengan penuh kesabaran dan ketidakpastian. Hari esok kini telah berakhir dan tak lagi berarti. Roti bercahaya telah menjemput keresahanku. Orang dengan pakaian putih yang membawaku terbang sekarang ini mungkin adalah utusan dari roti itu yang khusus untuk mengantarku ke nirwana.
Pagi berganti kulit menjadi kelabu. Gema nyanyian burung tenggelam dalam dinding kemuraman. Kuasa sang mentari tak berdaya digoyahkan oleh gemuruh awan hitam yang bergumul. Kilat dan petir mengantri di ruang tunggu, menanti saat untuk terjun bersama tetes-tetes air. Semut-semut berlari dan menyembunyikan kepalanya. Detik-detik berlalu, awan berubah mendung, dan langitpun mengencingi dunia yang fana dengan tenangnya.

Ringkasan Cerita Siti Nurbaya

Ditulis Februari 20, 2010 oleh glorymarbun
Kategori: Uncategorized

Hampir semua kritikus sastra Indonesia menempatkan novel Sitti Nurbaya ini sebagai karya penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Secara tematik, seperti yang disinggung H.B. Jassin, Zuber Usman, Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, maupun Teeuw, novel ini tidak hanya menampilkan latar social lebih jelas, tetapi juga mengandung kritik yang tajam terhadap adapt-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Novel ini pula yang pertama kali menampilkan masalah perkawinan dalam hubungannya dengan persoalan adat, yang kemudian banyak diikuti oleh pengarang-pengarang Indonesia sesudahnya.

Pada tahun 1969, novel ini memperoleh hadiah penghargaan dari pemerintah Indonesia sebagai hadiah tahunan yang diberikan setiap tanggal 17 Agustus- kini Hadiah Tahunan Pemerintah ini tidak dilanjutkan lagi.

Berbagai artikel maupun makalah yang membahas novel ini sudah banyak ditulis oleh para pengamat sastra Indonesia, baik dalam maupun luar negeri. Hingga kini, ulasannya masih terus banyak dilakukan, baik dalam konteks sejarah kesusastraan Indonesia modern, maupun dalam konteks social dan emansipasi wanita.

Di Malaysia, novel ini terbit pula dalam edisi bahasa Melayu. Pada tahun 1963 saja, di Malaysia itu, Sitti Nurbaya sudah mengalami cetak ulang ke-11. Untuk pengajaran sastra di tingkat sekolah lanjutan, novel ini merupakan salah satu novel wajib.

Tahun 1991, TVRI menyiarkan sinetron Sitti Nurbaya dengan pemeran utamanya Novia Kolopaking (sebagai Sitti Nurbaya) dan Gusti Randa (sebagai Samsulbahri).

Inilah ringkasannya.

Sutan Mahmud Syah termasuk salah seorang bangsawan yang cukup terkenal di Padang. Penghulu yang sangat disegani dan dihormati penduduk disekitarnya itu, mempunyai putra bernama Samsulbahri, anak tunggal yang berbudi dan berprilaku baik. Bersebelahan dengan rumah Sutan Mahmud Syah, tinggal seorang Saudagar kaya bernama Baginda Sulaiman. Putrinya, Sitti Nurbaya, juga merupakan anak tunggal keluarga kaya-raya itu.

Sebagaimana umumnya kehidupan bertetangga, hubungan antara keluarga Sutan Mahmud Syah dan keluarga Baginda Sulaiman, berjalan dengan baik. Begitu pula hubungan Samsulbahri dan Sitti Nurbaya. Sejak anak-anak sampai usia mereka menginjak remaja, persahabatan mereka makin erat. Apalagi, keduanya belajar di sekolah yang sama. Hubungan kedua remaja itu berkembang menjadi hubungan cinta. Perasaan tersebut baru mereka sadari ketika Samsulbahri akan berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan sekolahnya.

Sementara itu, Datuk Meringgih, salah seorang saudagar kaya di Padang, berusaha untuk menjatuhkan kedudukan Baginda Sulaiman. Ia menganggap Baginda Sulaiman sebagai saingannya yang harus disingkirkan, di samping rasa iri hatinya melihat harta kekayaan ayah Sitti Nurbaya itu. “Aku sesungguhnya tidak senang melihat perniagan Baginda Sulaiman, makin hari makin bertambah maju, sehingga berani ia bersaing dengan aku. Oleh sebab itu, hendaklah ia dijatuhkan,” demikian Datuk Meringgih berkata (hlm. 92). Ia kemudian menyuruh anak buahnya untuk membakar dan menghancurkan bangunan, took-toko, dan semua harta kekayaan Baginda Sulaiman.

Akal busuk Datuk Meringgih berhasil. Baginda Sulaiman kini jatuh miskin. Namun, sejauh itu, ia belum menyadari bahwa sesungguhnya, kejatuhannya akibat perbuatan licik Datuk Meringgih. Oleh karena itu, tanpa prasangka apa-apa, ia meminjam uang kepada orang yang sebenarnya akan mencelakakan Baginda Sulaiman.

Bagi Datuk Meringgih kedatangan Baginda Sulaiman itu ibarat “Pucuk dicinta ulam tiba”, karena memang hal itulah yang diharapkannya. Rentenir kikir yang tamak dan licik itu, kemudian meminjamkan uang kepada Baginda Sulaiman dengan syarat harus dapat dilunasi dalam waktu tiga bulan. Pada saat yang telah ditetapkan, Datuk Meringgih pun dating menagih janji.

Malang bagi Baginda Sulaiman. Ia tak dapat melunasi utangnya. Tentu saja Datuk Meringgih tidak mau rugi. Tanpa belas kasihan, ia akan mengancam akan memenjarakan Baginda Sulaiman jika utangnya tidak segera dilunasi, kecuali apabila Sitti Nurbaya diserahkan untuk dijadikan istri mudanya.

Baginda Sulaiman tentu saja tidak mau putrid tunggalnya menjadi korban lelaki hidung belang itu walaupun sbenarnya ia tak dapat berbuat apa-apa. Maka, ketika ia sadar bahwa dirinya tak sanggup untuk membayar utangnya, ia pasrah saja digiring polisi dan siap menjalsni hukuman. Pada saat itulah, Sitti Nurbaya keluar dari kamarnya dan menyatakan bersedia menjadi istri Datuk Meringgih asalkan ayahnya tidak dipenjarakan. Suatu putusan yang kelak akan menceburkan Sitti Nurbaya pada penderitaan yang berkepanjangan.

Samsulbahri, mendengar peristiwa yang menimpa diri kekasihnya itu lewat surat Sitti Nurbaya, juga ikut prihatin. Cintanya kepada Sitti Nurbaya tidak mudah begitu saja ia lupakan. Oleh karena itu, ketika liburan, ia pulang ke Padang, dan menyempatkan diri menengok Baginda Sulaiman yang sedang sakit. Kebetulan pula, Sitti Nurbaya pada saat yang sama sedang menjenguk ayahnya. Tanpa sengaja, keduanya pun bertemu lalu saling menceritakan pengalaman masing-masing.

Ketika mereka sedang asyik mengobrol, datanglah Datuk Meringgih. Sifat Meringgih yang culas dan selalu berprasangka itu, tentu saja menyangka kedua orang itu telah melakukan perbuatan yang tidak pantas. Samsulbahri yang tidak merasa tidak melakukan hal yang tidak patut, berusaha membela diri dari tuduhan keji itu. Pertengkaran pun tak dapat dihindarkan.

Pada saat pertengkaran terjadi, ayah Sitti Nurbaya berusaha datang ke tempat kejadian. Namun, karena kondisinya yang kurang sehat, ia jatuh dari tangga hingga menemui ajalnya.

Ternyata ekor perkelahian itu tak hanya sampai di situ. Ayah Samsulbahri yang merasa maluatas tuduhan yang ditimpakan kepada anaknya, kemudian mengusir Samsulbahri. Pemuda itu terpaksa kembali ke Jakarta. Sementara Sitti Nurbaya, sejak ayahnya meninggal merasa dirinya telah bebas dan tidak perlu lagi tunduk dan patuh kepada Datuk Meringgih. Sejak saat itu ia tinggal menumpang bersama salah seorang familinya yang bernama Aminah.

Sekali waktu, Sitti Nurbaya bermaksud menyusul kekasihnya ke Jakarta. Namun, akibat tipu muslihat dan akal licik Datuk Meringgih yang menuduhnya telah mencuri harta perhiasan bekas suaminya itu, Sitti Nurbaya terpaksa kembali ke Padang. Oleh karena Sitti Nurbaya tidak bersalah, akhirnya ia bebas dari tuduhan. Namun, Datuk Meringgih masih juga belum puas. Ia kemudian menyuruh seseorang untuk meracun Sitti Nurbaya. Kali ini, perbuatannya berhasil. Sitti Nurbaya meninggal karena keracunan.

Rupanya, berita kematian Sitti Nurbaya membuat sedih ibu Samsulbahri. Ia kemudian jatuh sakit, dan tidak berapa lama kemudian meninggal dunia.

Berita kematian Sitti Nurbaya dan ibu Samsulbahri, sampai juga ke Jakarta. Samsulbahri yang merasa amat berduka, mula-mula mencoba bunuh diri. Beruntung, temannya, Arifin, dapat menggagalkan tindakan nekat Samsulbahri. Namun, lain lagi berita yang sampai ke Padang. Di kota ini, Samsulbahri dikabarkan telah meninggal dunia.

Sepuluh tahun berlalu. Samsulbahri kini telah menjadi serdadu kompeni dengan pangkat letnan. Ia juga sekarang lebih dikenal dengan nama Letnan Mas. Sebenarnya, ia menjadi serdadu kompeni bukan karena ia ingin mengabdi kepada kompeni, melainkan terdorong oleh rasa frustasinya mendengar orang-orang yang dicintainya telah meninggal. Oleh karena itu, ia sempat bimbang juga ketika mendapat tugas harus memimpin pasukannya memadamkan pemberontakan yang terjadi di Padang. Bagaimanapun, ia tak dapat begitu saja melupakan tanah leluhurnya itu. Ternyata pemberontakan yang terjadi di Padang itu didalangi oleh Datuk Meringgih.

Dalam pertempuran me;awan pemberontak itu, Letnan Mas mendapat perlawanan cukup sengit. Namun, akhirnya ia berhasil menumpasnya, termasuk juga menembak Datuk Meringgih, hingga dalang pemberontak itu tewas. Namun, Letnan Mas luka parah terkena sabetan pedang Datuk Meringgih.

Rupanya, kepala Letnan Mas yang terluka itu, cukup parah. Ia terpaksa dirawat dirumah sakit. Pada saat itulah timbul keinginan Letnan Mas untuk berjumpa dengan ayahnya. Ternyata, pertemuan yang mengharukan antara “Si anak yang hilang” dan ayahnya itu merupakan pertemuan terakhir sekaligus akhir hayat kedua orang itu. Oleh karena setelah Letnan Mas menyatakan bahwa ia Samsulbahri, ia mengembuskan napas di depan ayahnya sendiri. Adapun Sutan Mahmud Syah, begitu tahu bahwa Samsulbahri yang dikiranya telah meninggal beberapa tahun lamanya tiba-tiba kini tergolek kaku menjadi maya

my profil

Ditulis Februari 20, 2010 oleh glorymarbun
Kategori: Uncategorized

NAMA      :GLORY M M MARBUN

T LAHIR   :MATIO,08-11-94

ALAMAT  :JLN FL TOBING

HOBBY       :MEMBACA

CITA-CITA :PENGACARA

MOTTO        :LEBIH BAIK MANDI KERINGAT PADA SAAT BELAJAR DARI KELAK MEYESAL

Hello world!

Ditulis Februari 20, 2010 oleh glorymarbun
Kategori: Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!